The Architects Brain. pointsupreme
Arsitektur ITS 2011. Penggemar kopi, musik, dan buku.
"Neptunus, semua nelayan yang sedang mencari arah akan diberi petunjuk oleh bintang di langit. Semoga dia menemukan bintangnya dan kembali menemukan jalan pulang"
Page 208 (via awkwardly—awesome)
(via mightystarrysky)
Couple weeks ago, my laptop’s hard disks went over the bridge. When I track down the problem by the computer analyst on arch-computation lab, he said, it’d need approximately 1 million rupiahs. As if I had the money, but no. So I decided to take it into the brand center point, and luckily I get free (cost less than numbers above this line) service. But yeah, the place really brings some old memories swinging by.
The place is called Hi-Tech Mall; those who lived in Surabaya must be familiar with this place. This mall is contains everything about electronics; computers, phones, play stations, and stuffs. The funny part is, I remember my father in a sudden when my 17-years-old’s mind sees the stucked stairs, broken floor, and old scent of the mall. Why? Because this is the first buildings my father & my 7-years-old’s mind had commentary on.
Back then I was just saying that this place is maybe somewhere over the earth but not in Surabaya; which is the 2nd busiest city after Jakarta. But less than a minute my father said, that it was build by Javanese, which is rare; every common places in the city usually owned by the non-Javanese. And then I asked, from whom did he knows that. And later my mother told me that my father is an architect, he works for something like this. Build & build. His specialty is apartment, mall & others public high-mass building. But still I can’t capture it in mind, then he explains to me further.
“If we see the floor, it’s orange, too common and not elegant. Some of them are broken. The elevators don’t work, the stairs is not in order. The small shops on first floor, selling artificial things. The Javanese must be owning this place, probably not that rich so the treatment of this place is lacking at many aspects.”
So then I’m wow-ing my self.
And usually this is the heaven for me & my father. When my mother & sister enjoy shopping for dress. We usually enjoy shopping for free software. It costs only 20 thousands rupiahs for an app, and cracked! Voila the trial software is now officially a pro one.
In my flash mind while waiting my numbers of customer at the center point was called, something slipped out. Even though I’ve seen all the imperfect side of him, as my father, I should remember that he’s the first & only architect I knew when I was stepping by in college, architecture department. And he’s the one who thaught me to crack the apps.
| A: | Aku pengen pulang ke rumah. Rasanya capek nggak sih jauh dari rumah. |
| B: | Capek kalo yang dirumah memberikan stimulan untuk pulang, capek kalo yang di rumah cuma ngasih harapan berkunjung. Tapi 6 minggu yang tersisa nggak seberapa bikin capek kok. Kamu kenapa? |
| A: | Nggak tau. Dari kemarin lagi ngerasa pengecut aja. Jadi pengen kabur. |
| B: | Cerita dulu ajaaa. Kamu kenapa? |
| A: | Pengen berlindung. Pengen ngerasa aman dan nggak sendirian. |
Beberapa minggu yang lalu saya kedapetan rezeki buat bisa mengunjungi sebuah panti asuhan di gang sempit daerah Keputih. Saya, dan beberapa temen-temen Elang 2011 yang antusias berkontribusi di acara tahunan HIMA Sthapati kali ini sudah mulai kalang kabut mulai hari senin lalu. Mengumpulkan uang, dan memilih-milih buku sumbangan yang nantinya akan dibaca para penerus bangsa disana nantinya. Sthaperi; Sthapati Peduli Negeri. Kali ini mengusung acara Pustaka Mini yang diadakan di Panti Asuhan B. J. Habibie. Konsepnya simple; mbak mas fungsionaris mengkoordinasikan tiap angkatan & KM Sthapati yang berminat untuk menyumbangkan buku-buku bekas bagi anak-anak SD-SMP. Dengan rak buku, meja belajar, bahkan buku gambar & origami (brainstorming biar jadi arsitek :p)
Lalu ini yang menarik. Ada part dimana kadep hublu kami menanyakan nama & cita-cita adek-adek semua. Ada dokter, polisi, pemain sepak bola, guru, dosen, dll. Tak satupun menyebut arsitek. Mungkin karena banyak anak seumuran mereka yang belum paham betul siapa itu arsitek dan apa yang mereka lakukan, beda nggak sih sama tukang bangunan, dan lain sebagainya. Yah, memang kami sedikit kecewa, tapi hal tersebut terbayarkan dengan ditemukannya buku “Membangun Rumah Yang Baik” di sudut perpustakaan yang sudah ada sebelumnya.
Mengutip sebuah perjalanan berbagi cerita seorang lightning designers yang bersusah payah menjelaskan pekerjaannya kepada siswa-siswi kelas 3 SD
“Saya adalah arsitek,
Arsitek adalah orang yang merancang bangunan dan membangunnya sehingga bisa digunakan oleh orang lain secara nyaman dan bisa memberikan lingkungan yang lebih baik.
Kami bekerja tidak sekedar menggambar, tetapi mendengarkan mimpi, menuangkan harapan orang lain, dan membuatnya nyata melalui proses menjadi bangunan yang bertahan lama.
Tempat dimana kalian duduk sekarang, kota kita, lihatlah keluar jendela, mesjid, gedung hotel itu, rumah itu, pasar, tempat kalian bermain, rumah sakit, adalah hasil kerja arsitek dan timnya. Kami bermimpi bersama dan membuatnya terbangun.
Monas, Museum gajah, masjid istiqlal, gereja katedral, stadion bung karno, candi borobudur, dari pyramid di Mesir hingga menara Eiffel di paris, kami merancang dan membuatnya nyata dan bertahan hingga saat ini. Kota kita di isi dan dibentuk oleh arsitek.
Arsitek menurut arsitek terkenal Frank Lloyd Wright adalah sekaligus penyair dan peramal, penyair yang menadakan jamannya dan menjawab masa depan melalui rancangannya.
Dan kamu, kamu, kamu, kita adalah seorang arsitek untuk masa depan kita.”
Arsitek. Bagi saya adalah sebuah pekerjaan mulia.
Mungkin satu tingkat dibawah guru.
Mungkin berbeda dengan dokter.
Namun bagi saya, kami membawa kehidupan, dari balik layar.